malaysia 1

Menapaki Keramah Tamahan Negeri Multi Ras Di Perbatasan

“Memanda Menteri punya kata
Satu Malaysia punya cerita
Rakyat semua diberi pertama
Pencapaian terbaik diberi utama
Rakyat Malaysia ramainya bangsa
Melayu, Peribumi, Cina dan India
Mari kita semua bersama
Membangun negara Malaysia tercinta…”

begitulah salah satu sajak syair malaysia 1 yang selalu di dengungkan ketika hari kemerdekaan negeri jiran tersebut. Sebagai salah satu destinasi wisata di asia tenggara, malaysia memang memiliki nilai tersendiri dalam menyajikan tempat–tempat wisata bagi pelancong. Dengan berbekal slogan “malaysia truly asia” yang didasarkan pada multi ras dan suku, malaysia memang benar-benar kaya akan keberagaman budaya dari luar. Banyaknya elemen masyarakat di malaysia diantaranya melayu, india, cina, thai, jawa, minang menambah kaya akan tempat wisata yang akan dikunjungi.

Ini adalah kesempatan saya untuk mencoba kekayaan destinasi wisata di tanah multi ras tersebut. Dengan berbekal sebuah map dan secarik kertas informasi wisata negeri jiran tersebut, saya memutuskan untuk berkunjung ke pulau terluar yang berbatasan langsung dengan thailand, yaitu pulau langkawi. Sebenarnya ada dua alternatif perjalanan yang bisa di tempuh untuk menuju pulau langkawi tersebut. Pertama dengan menaiki kapal feri melalui pelabuhan kuala perlis di kedah, kedua melalui bandara internasional langkawi yang melayani rute Kuala lumpur-Langkawi setiap harinya.

Namun saya akan mencoba jalur yang akan memakan waktu sangat lama dan melelahkan, yah dari batam saya akan menaiki kapal feri menuju pelabuhan stulang laut di Johor baru yang memakan waktu sekitar  1,5 jam. Setelah setibanya di johor, kita akan menaiki bus ekspress menuju kedah dengan menempuh waktu sekitar 18 jam perjalanan, sungguh perjalanan yang sangat lama dan melelahkan. Sempat saya berpikir, kenapa harus membuang-buang waktu dengan jalur darat, mungkin dengan menaiki pesawat semua akan mudah dan simpel. Tanpa pikir panjang, saya pun langsung menuju terminal “bas” (sebutan bagi orang malaysia) yang berjarak sekitar 5 menit dari pelabuhan, mungkin saya akan kehilangan pengalaman dan momen-momen tertentu yang ada di sepanjang perjalanan  darat jika menaiki pesawat dari kuala lumpur, pikir saya.

Cuaca memang sedang  tidak bersahabat saat itu, johor di landa hujan deras yang memaksa saya harus menutup semua bagian tas kamera dan tas selempang dengan kantong plastik yang saya beli di kedai terminal. Saya benar-benar sempat kehilangan akal, apa yang akan saya lakukan disini di tengah-tengah badai yang mendera kota johor, banyak kedai makanan yang sudah tutup dikarenakan hari yang sudah magrib. Akhirnya sayapun hanya bisa berdiam diri di  shelter “bas” sambil menahan lapar dan dingin yang menghampiri.

Setelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya “Bas” yang saya tunggu pun datang juga, sebelumnya kita harus mengeluarkan uang Rm35/tiketnya. “Bas” antar kota di malaysia memang rata-rata bertingkat dua dan sangat nyaman, sangat jauh berbeda dari yang saya rasakan di negara sendiri. Sepertinya keselamatan dan kenyamanan penumpang tidak di anggap, yang ada di dalam pikiran supir dan perusahaanya adalah bagaimana mendapat untung sebanyak-banyaknya dengan pengeluaran sedikit. Itu sangat kontras dengan yang saya lihat di negeri jiran ini, semuanya sangat teratur dan efisien.

Setelah mendapatkan tempat duduk sesuai nomor tiket, akhirnya saya bisa merebahkan badan dan bisa merehatkan tubuh saya sejenak. Perjalanan 18 jam ini  akan di selingi 2 kali istirahat makan di sepanjang Tol “lebuh raya” malaysia. Di sepanjang perjalanan mata saya tidak bisa dipejamkan sama sekali, padahal badan ini sudah terasa lelah, saya mencoba untuk mengemil cemilan yang saya bawa dari rumah, mungkin itu akan membantu membuat saya mengantuk nantinya. Dan ternyata salah besar, saya sukses membuat diri saya kehausan dan saking hebatnya, tidak ada satu air mineral pun terbawa dari rumah. Saya pun mencoba untuk tetap tenang meski pun terlihat gelisah karena “kepedasan” akibat kripik balado, karena tidak mungkin saya menjilati jendela bus hanya untuk mendapatkan air embunnya. Beruntung penumpang di sebelah saya menegur dan bertanya “kepedasan mas?” tanyanya sambil tersenyum, saya langsung mengiyakan dan bertanya “ada air aqua mas?”, dia langsung menyodorkan sebotol air mineral “nih”, tanpa pikir panjang saya langsung mengambilnya dan meneguknya. “wah makasih banyak yah mas?” “iya sama-sama. Hehehe” jawabnya. Sambil bercerita d sepanjang perjalanan lelaki ini memperkenalkan dirinya dengan ramah, lelaki berperawakan tegap ini bernama husein. Dia menuju kedah karena memang sedang menjalani masa study di Universitas Utara malaya dan sekarang sedang masuk semester 6. Dia pulang ke batam karena memang kebetulan sedang libur semester. Sempat saya bertanya, mengapa jauh sekali kuliah di kedah? Sedangkan di daerah kuala lumpur dan putra jaya banyak universitas terkenal. Dia menjawab dengan senyum “saya mendapatkan bea siswa dari indonesia mas, dan selama saya kuliah di sana biaya kuliah dan hidup di tanggung negara”. Di sela-sela pembicaraan saya juga menggali informasi mengenai langkawi, dan hasilnya saya mendapatkan banyak informasi dari dia.

Setibanya di tempat perehatan, kesan pertama yang saya dapat adalah tempat perehatan ini jauh lebih baik dan bersih dari indonesia. Karena setiap tempat perehatan Tol “Lebuh raya” di seluruh malaysia di kelola oleh satu perusahaan swasta yang bekerja sama dengan pemerintah. Semuanya teratur, bersih dan yang terpenting tidak ada satupun pengemis, pengamen dan penjaja koran keliling di temukan di “hentian rehat” ini.

Ada sedikit pengalaman menggelikan yang membuat saya sedikit hati-hati dalam memesan makan di malaysia ini, saat itu ketika saya memesan teh panas. Yang disajikan malah teh susu dengan air yang membuat bibir  rontok kalau meminumnya. Saya heran dengan menunjukkan ekpresi orang bodoh,  Huseinpun tertawa geli melihatnya, dia mengatakan jika hendak memesan teh saja bilang “teh O” maka yang disajikan akan benar-benar teh. Masyarakat di malaysia memang mengasumsikan teh itu adalah teh campuran susu.

Lain lagi ketika saya hendak membeli air mineral, mungkin karena kebiasaan di indonesia, saya dengan santainya meminta “bang, aqua botol satu?!” orang di kedai tersebut malah membalas dengan tertawa. Saya terdiam dan berpikir, sepertinya tidak ada yang salah dari ucapan saya tadi. Saya pun bertanya “kenape tertawa bang, aquanya satu bang?” penjaga kedai itu kembali tersenyum dan berkata “nak aqua, jangan disini. Saya rase di bukit kemunteng johor beserak laah” sambil tertawa. Saya bingung dan menghampiri husein yg berdiri di depan kedai menunggu saya. “mas, saya nanya aqua botol, bocah ini malah ketawa loh, ada yang salah ya?” husein tersenyum dan mengatakan kalau “akua” di malaysia berarti bencong/banci, ‘jadi kalau mau beli air kemasan, sebut saja air mineral”. Wah, saya merasa dikerjai nih dengan pedagang tadi, dan kembali dengan meminta air mineral sembari menjelaskan kalau saya tidak tahu perihal bahasa tersebut, orang kedai tersebut mengerti. Karena bukan saya saja yang bertindak demikian,banyak orang indonesia yang melancong kesini berkata demikian. dia hanya sedikit bercanda dengan saya, Sungguh kejadian yang menggelikan pikir saya.

Image

orang-orang di daerah hentian rehat pasar india, kuala lumpur

Jam sudah menunjukkan pukul 1.35 dini hari waktu malaysia, pengumuman di speaker tempat “hentian rehat” mengumumkan bahwa bus kami akan segera berangkat. Dengan cuaca yang masih sedikit gerimis bus antar kota pun melanjutkan perjalanan menuju utara malaysia, saya pun hanya bisa menghabiskan waktu dengan tidur disepanjang perjalanan.

Keesokan paginya setelah sarapan di tempat “hentian rehat” kami melanjutkan perjalanan kembali menuju kedah, saya sungguh takjub dengan peradaban masyarakat utara malaysia ini. Meski tidak semaju seperti kota besar lainya di bagian selatan, tetapi dari segi tata kota dan kebersihan, tidak kalah dari kota-kota bagian selatan. Sayang, saya tidak bisa turun dari bus untuk berkeliling di kota ini. Setelah beberapa saat, akhirnya kami sampai di terminal bus kedah, dan perjalanan antara saya dan husein akhirnya berakhir. Dia berpamitan dengan saya karena hendak langsung menuju asramanya di Universitas utara malaya, sedangkan saya langsung menuju pelabuhan kuala perlis yang berjarak sekitar 3 Km dari terminal.

ImageBegitu saya sampai, alangkah terkejutnya saya bahwa pelabuhan itu telah di penuhi manusia yang akan menyeberang menuju pulau langkawi. Memang hari itu, bertepatan dengan hari deepavali dan libur sekolah di malaysia, sehingga wisatawan dalam dan luar negeri malaysia berkerumun di pelabuhan itu, untuk menuju langkawi. Langkawi sendiri merupakan satu distrik dalam negara bagian Kedah Darul Aman yang menjadikan burung elang sebagai ikonnya. Pulau Langkawi ini diberi status bebas cukai pada tahun 1987. Sekarang, pulau yang kaya dengan keindahan alami dan legenda masa lalu ini telah menunjukkan diri sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang paling populer di malaysia. Langkawi sebenarnya merupakan suatu gugusan pulau di mana Pulau langkawi lah yang terbesar.

Image

para penumpang yang mengantri menaiki ferry

Image

seorang anak keturunan india di daerah utara malaysia

Ada beberapa gugusan pulau yang mengitari pulau langkawi. Diantaranya :

  1. Pulau Dayang Bunting
  2. Pulau Singa Besar
  3. Pulau Tuba
  4. Pulau Langgun
  5. Pulau Timun

Setelah membeli tiket dengan harga RM18, akhirnya saya mendapatkan feri sekitar jam 11.30, dan itu artinya saya harus menunggu sekitar sejaman lagi di tengah sesak kerumunan manusia. Sungguh perjalanan yang menguras tenaga, pikir saya. Setibanya feri datang, tanpa pikir panjang, saya langsung menerobos barisan karena memang sudah sangat kepanasan di dalam ruang tunggu yang “over capacity”. Dan yap, akhirnya saya pun menaiki fery, dan perjalanan menuju langkawi pun di mulai.

Image

langkawi dengan ikon elang lautnya, sebagai salah satu dari nama daerah tersebut yaitu LANG yg berarti burung elang

Image

jembatan yang menghubungkan wisatawan ke patung burung elang Langkawi

Setibanya di langkawi, saya sungguh terkejut dengan landscape pulau ini. Sungguh indah, dan yang membuat saya iri adalah, setiap gedung yang saya lewati dari johor hingga langkawi, sepertinya tidak pernah absen dengan bendera kebangsaan malaysia. Saya sempat tertegun dan berpikir, bukankah hari kemerdekaan malaysia sudah berakhir 2 bulan yang lalu. Atau memang rasa nasionalisme masyarakat di sini memang sudah di pupuk menjadi lebih baik. Hal ini sangat kontras dengan terlihat di indonesia, yang notabene lebih dahulu merdeka. Tetapi masyarakatnya butuh di “Himbau” terlebih dahulu untuk memasang bendera di rumah mereka, bahkan ada yg tidak memasang merah putih di rumahnya, sungguh miris dan ironis sekali melihat ketimpangan ini.

Image

salah seorang penjaga gerai pakaian dengan kaos timnas kebanggaan negerinya

Sayapun bergegas menuju hotel yang terdekat di daerah pelabuhan, tentunya dengan biaya yang tidak besar. Sekitar 10 menit perjalanan menggunakan taxi, saya menuju hotel yang mungkin setara dengan hotel berbintang 2, namun tidak menguras dompet. Per malamnya kita dikenakan RM80, sudah termasuk sarapan.

Keesokan harinya sayapun melanjutkan perjalanan menuju pulau dayang bunting, Pulau Dayang Bunting merupakan pulau yang terbesar setelah langkawi di Kedah. Terletak 17,6 km atau kira-kira 15 menit perjalanan dengan perahu dari dermaga Kuah, Langkawi. Jalan perhubungan hanya melalui speedboat yang dapat disewa di dermaga pekan Kuah, pulau Langkawi dengan biaya RM45 perorang.

Pulau ini mendapat nama dari cerita seorang raksasa sakti yang bernama Dayang Bunting. Pulau ini sepintas  menyerupai raksasa hamil yang berbaring. Dalam perjalanan menuju pulau Dayang Bunting, kita akan melihat bentuk gunung yang menyerupai seorang perempuan sedang terbaring dengan bentuk kepala, dada dan perut yang sedang mengandung. Sungguh indah pemandangan di sini, dan masyrakat di daerah langkawipun sangat ramah dalam menjamu dan memandu wisatawan asing khususnya.

Image

memasuki wilayah pulau dayang bunting

rata-rata masyarakat di daerah dayang bunting memilih pekerjaan yang berhubungan dengan perikanan, baik itu sebagai nelayan maupun tambak ikan.

Image

di penghujung pulau

Image

sebuah lokasi tambak ikan di daerah langkawi

Dari langkawi menyambangi hatyai

Image

gajah merupakan lambang dari sebuah kemakmuran di thailand

Dari langkawi, destinasi sayapun saya teruskan menuju hatyai, suatu kota di thailand. Hat Yai merupakan nama kota yang terletak di Thailand bagian selatan termasuk kedalam provinsi songkhla dan terletak di dekat perbatasan Malaysia. Kota ini penduduknya masih kebanyakan keturunan melayu, dan masih mengerti dengan bahasa melayu. Dan masakan yang terkenal dari kota ini adalah cumi-cumi kering dan yang pasti sudah tidak asing lagi tomyam.

Image

gerai tomyam

Di Thailand, tom yam yang berarti sup ini biasanya dibuat dengan udang (tom yum goong), ayam (tom yum gai), ikan (tom yum pla), atau makanan laut yang dicampur (tom yum talay atau tom yum po tak) dan berbagai bahan lainya. memang tom yam yang langsung saya cicipi di negeri ini sangat berbeda dengan tom yam yang biasa dihidangkan di resto-resto di indonesia. salah satu makanan yang saya coba lagi dari kota hatyai ini adalah plahmuk haeng atau cumi kering, rasanya memang sedikit asin khas cumi. tetapi tetap saja bumbu-bumbu khas thailand terasa dominan di dalamnya.

Image

salah satu gerai cumi kering

Di hat yai sendiri, pemasukan daerahnya sangat tergantung dari hiburan malam dan prostitusi yang legal. saya memang sedikit terkejut ketika memasuki kota ini di malam hari, sepertinya banyak tempat-tempat gemerlap yang disajikan buat wisatawan di kota ini.

Image

salah satu gerai massage yang memang selalu menyediakan jasa plus-plus

Image

cabaret show yang dimainkan oleh para waria

Budaya melayu masih sedikit terasa di kota ini, meski sudah dominan budaya thailand. Tidak seperti malaysia, masyrakat disini sepertinya sudah biasa dengan hiburan malam yang kental dengan yang berbau “Sex”, mulai dari cabaret show yang seluruh pemainya adalah banci/waria, hingga akrobat yang memang diperuntukkan untuk tontonan dewasa. Saya seperti memasuki kota yang memang bebas dalam segala hal, dan itu menguji keimanan saya.

ada hal yang membuat saya sedikit terpana, karena memang hiburan ini tidak pernah saya temui sama sekali di indonesia, yah cabaret show di hatyai hansa plaza. cabaret ini menceritakan bagaimana budaya dan asal mula rakyat thailand itu berasal, penuh dengan humor dan yang pasti penuh dengan sensasi eksotisme. yang paling mencengangkan lagi, waria disini sangat cantik dan sexy, saya sempat bingung ketika pertama kali melihat mereka berada di atas panggung membawakan tarian-tarian kontemporer.bagaimana mereka bisa secantik itu

Image

cabaret show yang dimainkan oleh para waria

Jika dilihat dari kurun waktu dekade akhir, thailand memang terkenal dengan hal operasi plastik, banyak masyarakat dari seluruh dunia ingin menyambangi negara ini untuk berpelesir atau sekedar mengubah bentuk tubuh mereka. yah, thailand merupakan negara destinasi setelah korea selatan dalam hal berbenah kecantikan wajah dan tubuh. bahkan disini, sudah rutin diadakan kontes kecantikan yang diperuntukkan bagi kaum waria.

Image

cabaret show yang dimainkan oleh para waria

jika kita ingin menonton cabaret show ini, kita akan merogoh dompet sekitar 700 baht atau setara dengan 250 ribu untuk durasi selama 2 jam. ada 4 sesi cerita yang akan di ceritakan, dengan pembukaan tari-tarian khas thailand. cabaret show ini hanya ada 3 buah di thailand, yaitu di daerah bangkok, pattaya, dan kota hatyai yang berbatasan  dengan malaysia.

Image

cabaret show yang di mainkan oleh para waria

Menghabiskan semalam, memang sepertinya tidak cukup bagi saya di salah satu kota gajah putih ini. Tapi, memang waktu yang saya miliki tidak banyak. Akhirnya saya kembali ke kuala lumpur menaiki bus ekspress. Dan memang keramahan dan senyuman anak-anak keturunan india yang mendominasi di utara malaysia, menatap biksu yang memberi berkah di setiap rumah dan jalan-jalan masyrakat hatyai, serta kerendahan hati masyrakat langkawi dan hatyai tidak bisa di lupakan begitu saja. Sungguh hari yang luar biasa, di lain waktu saya akan kembali menatap patung elang di langkawi, di lain waktu akan ada kisah lagi di negeri gajah ini.

Image

seorang biksu yang memang biasa memberi doa berkah tiap pagi pada setiap sisi hatyai

Image

pagi hatyai, pagi yang membiru

****

all photo by : vicky batamh

text by : vicky batamh

4 thoughts on “Menapaki Keramah Tamahan Negeri Multi Ras Di Perbatasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s