IMG_3022

MENYONGSONG TAHUN BARU DENGAN BERBAGI NAFAS DAN RUANG DI BUMI BATAVIA

“Sekejam-kejamnya ibu tiri, masih lebih kejam ibu kota”

Semua orang pasti mengetahui apa makna dan filosofi dari sepenggal kalimat di atas,  kalimat itu mulai tenar sejak dahulu ketika jakarta mulai tumbuh menjadi kota metropolitan. Bak jamur yang tumbuh di kayu mati nan lembab, jakarta yang dahulunya kering kerontang, perlahan menjadi lahan basah bagi pendatang yang berasal dari dalam dan luar nusantara ini. Tidak dipungkiri, daya tarik magnet yang dimiliki jakarta sangat besar pengaruhnya bagi seluruh masyarakat nusantara, hampir rata-rata setiap tahunnya jumlah penduduk di kota ini meningkat tajam seirama dengan denyut nadi perekonomian. Dengan seiring perputaran waktu, jakarta pun mulai membuka diri bagi siapa saja yang ingin mempertaruhkan hidup di dalamnya.

good night jakarta

selamat malam para pencari rezeki

Sekarang di awal tahun 2013, kota yang memiliki banyak pergantian nama ini ( sunda kelapa, jayakarta, batavia, jaccatra, djakarta, jakarta) telah di sulap menjadi sebuah kota megapolitan yang sangat fenomenal dan sarat akan berbagai macam budaya. Betapa tidak, kota ini merupakan daerah tujuan urbanisasi berbagai ras di dunia dan berbagai suku bangsa di Indonesia, gedung pencakar langit pun berlomba berdiri kokoh dengan pongah menunjukkan eksistensinya memenuhi ruang jakarta. Yah bumi jakarta, kota peraduan nasib bagi jutaan masyarakat nusantara ini semakin penuh dan sesak. Semuanya menaruh harapan di kota ini untuk menyambung nafas , dan semuanya mencurahkan kemampuannya di kota yang menjadi ibu kota Republik Indonesia ini.

Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 17.30 sore, tapi KRL (kereta listrik) menuju manggarai-depok yang aku tunggu tak kunjung datang, kereta yang awalnya di jadwalkan berangkat pukul 16.00 sore ini belum juga menampakkan gerbongnya di stasiun terbesar di ibu kota ini. Tak berapa lama, muncul pengumuman di pengeras suara yang memberitahukan bahwa kereta manggarai-depok mengalami kerusakan dan akan terlambat kedatanganya, seketika itu juga seluruh penumpang yang menunggu mengeluh dan banyak juga yang memaki pelayanan transportasi massal dari pemerintah pusat yang tak kunjung sembuh, bahkan ibarat penyakit kanker tingkat keburukan pelayanan ini sudah di ambang stadium 3.

Aku pun hanya bisa terdiam melihat kejadian seperti ini, mungkin inilah kejadian yang hampir setiap hari di alami warga ibukota, tiada hari tanpa kemelut dan konfrontasi. Bukan warga jakarta namanya jika kita tidak tahan banting dan “galak” dengan lingkungan pikirku. sembari merebahkan diri di kursi tunggu peron, akupun mulai melepas penat di keramaian stasiun yang menurutku jauh dari kata nyaman. Tak pernah mataku absen melirik para pedagang asongan yang hilir mudik menaruh harap pada calon penumpang yang menunggu, serta para anak jalanan yang tanpa beban hidup bersenda gurau mengisi riuh stasiun ini. Inilah jakarta, keras dan tak pandang buluh.  jika kita kalah dengan ibu kota, nasib kita sudah pasti sama dengan mereka yang belum beruntung.

Sudah beberapa kali kereta tujuan daerah lain berseliweran di stasiun ini, namun kereta yang aku tunggu masih enggan menampakkan gerbongnya, “parah kali ini lah…parah…parah!” keluhku. Jenuh menunggu, akhirnya akupun menyerah pada waktu dan memutuskan membatalkan keberangkatanku ke depok untuk menemui seorang teman disana, mungkin aku tidak setangguh masyarakat disini yang memang sudah makanan sehari-harinya berhimpitan dan mendapatkan pelayanan minus dari pemerintah. Sekarang aku baru merasakan apa makna di balik “sekejam-kejamnya ibu tiri, lebih kejam ibu kota” itu cukup membuatku tersenyum simpul jika mengingat kalimat yang entah siapa pencetusnya pertama kali, yang jelas dia pasti sudah lebih dulu merasakan pahitnya ibu kota

TAMBORA OH TAMBORA…

Sinar fajar menyingsing menyusuri setiap sudut ibukota, diikuti dengan desir kehidupan yang tak pernah mati di kota ini. Udara pagipun mulai terasa hambar di kerongkongan ku, tak ada embun yang bisa membasuh jiwa yang terjaga di kota ini selain semangat penyambung hidup yang masih bisa menutup cerita lama warga ibukota.  Riuh tahun baru yang masih menyisakan kemeriahanya masih bisa dirasakan hingga hari ini, meski hanya menyisakan sampah dan bekas kesemrawutan malam pergantian tahun baru; tetapi asa setiap warga ibukota tak pernah goyah menghadapi setiap episodenya.

Dari balik jendela kamar, sebuah pemandangan yang sudah biasa menunjukkan kalimat verbal “inilah kerasnya jakarta, rezeki bisa datang dari mana saja asal kamu mau berusaha” jelas tersirat di benakku. Segerombolan pemulung dan anak-anak jalanan berlomba mengais rezeki di antara sampah-sampah yang tergenangi air karena hujan disaat malam pergantian tahun baru. Sepertinya yang ada di benak mereka hanya bagaimana untuk bisa bertahan hari ini, untuk esok mungkin esok pula dipikirkan. Kehidupan yang simpel dan tidak penuh neko-neko mereka jalani setiap harinya dengan senyuman.

Hal ini menggelitik hatiku untuk mencari tahu bagaimana kehidupan jakarta yang sesungguhnya, bukan hanya disajikan dengan gedung pencakar langit di jalan Thamrin dan megahnya bundaran HI atau eloknya Senayan dengan Gelora Bung Karno. Ibarat cover buku, tempat-tempat itulah yang menjadi magnet bagi para imigran ke jakarta, sedangkan ketika kita mengupas lebih dalam tentang ibu kota, tak pelak meneteskan airmata dan menyayat hati jika melihat kenyataanya.

Maka dengan berbagai informasi yang aku dapat dari teman tempatku menginap, maka terpilihlah lokasi Tambora menjadi pilihan untuk memulai perjalanan. Yah tambora, salah satu kecamatan yang berada di jakarta barat ini terkenal sebagai kecamatan yang paling padat penduduknya di jakarta bahkan Asia Tenggara. Hampir seperempat jumlah penduduk jakarta yang berjumlah 9,6 juta (sensus 2010) bermukim di kecamatan tersebut. Selain Jarak tempat aku bermalam sekarang (grogol) memang tidak jauh dari Tambora, kendaraan umum menuju kesana memang relatif mudah, itulah mengapa aku memberanikan diri untuk menjajalnya sendiri. Setelah mendapatkan info yang cukup dari teman, tanpa pikir panjang aku pun bergegas untuk menyusuri setiap jengkal tempat itu.

Perjalanan pun aku mulai dengan menyisiri setiap anak tangga menuju shelter trans jakarta, yang berada tepat di tengah-tengah jalan raya. Tanjakkan jembatan penyebrangan yang curam dan jauh memaksa fisikku bekerja sedikit ekstra menapakinya, untuk sekali dua kali mungkin masih bisa ditoleransi, tapi kalau setiap hari seperti ini rasanya tidak ada alasan untuk tidak membeli kendaraan pribadi agar memudahkan mobilitas di kota yang sesak ini. Meskipun pada kenyataanya, aku tahu bahwa kendaraan pribadi di jakarta sudah over crowded . Setelah membeli karcis seharga Rp 3.500, aku pun melenggang menuju ruang tunggu yang disediakan. Tak berapa lama, Bus Trans jakarta yg ditunggupun menghampiri shelter. Sedikit terkejut dengan pemandangan di dalam bus, nama tenar Trans Jakarta seketika itu luntur di benakku ketika melihat kenyataan bahwa keadaanya lebih mirip metromini. Dengan perbandingan penumpang yang turun lebih sedikit ketimbang yang naik, warga ibu kota layaknya ikan Sardine yang terbungkus ekslusif di dalam bus Trans Jakarta. Hal ini memaksaku untuk menunggu bus berikutnya saja ketimbang berhimpitan didalam. Tetapi kebanyakan warga ibu kota memilih menaiki bus itu ketimbang menunggu, “uedan, masih aja ada yang naik…wong sesek ga karuan gitu” cetus orang paruh baya di sebelahku.

Dengan jeda waktu sekitar 15 menit, bus berikutnya menghampiri shelter ini dengan muatan yang tak kalah sesaknya dengan bus sebelumnya. Tapi apa daya, dari pada aku berdiam diri hanya menunggu bus dengan muatan layak, rasanya itu hanya mimpi belaka dan menghabiskan waktu percuma. Akhirnya akupun menaiki bus dengan tergopoh-gopoh bersama penumpang lainya yang semenjak tadi memenuhi shelter. Tidak ada sedikitpun ruang di dalam bus yang memungkinkan diri ku untuk bergerak leluasa, kecuali memutar dan sedikit menggeser badan, bahkan untuk merubah posisi taspun sangat sulit dilakukan. Semakin terasa, bahwa kian kemari transportasi massal menjadi pilihan warga ibukota untuk penyambung langkah, tetapi hal itu tidak didukung sepenuhnya dengan keseriusan pemerintah untuk membenahi sistem transportasi di kota yang terkenal akan macetnya ini.

Setelah melewati ± 20 menit perjalanan, akhirnya akupun sampai di shelter jembatan besi Tambora. Lagi dan lagi, aku harus menyebrangi jembatan penyebrangan yang panjang dan curam. Dengan ditemani terik matahari yang tidak kalah garangnya dengan kerasnya perjuangan di tambora, akupun hampir menyerah dengan cerita yang disajikan bumi batavia ini. Sambil menahan haus yang sudah hinggap di kerongkongan sedari tadi, aku menghampiri warung terdekat untuk membeli sebotol air mineral sambil menggali informasi dengan sang penjual. “mas, mau nanya nih…gang venus didaerah mana yah?’ tanyaku, sang pemilik warung menjawab “oh deket mas, kira-kira setengah kilo lah dari sini. Lurus aja terus nanti ketemu gang masuknya di perempatan jalan”. Setelah berpamitan, akhirnya aku menuju arah yang di berikan oleh pemilik warung tadi, gang venus kesitulah kakiku akan melangkah.

Gang venus sangat terkenal oleh seluruh penduduk Tambora, karena tempat itulah yang paling terpadat di kecamatan tambora. Gang venus sendiri hampir tidak pernah absen mewakili tambora mengenai pemberitaan kebakaran dan kebanjiran di media setempat. Betapa tidak, ketika awal kakiku melangkah memasuki gang jalan yang selebar 2 meteran ini, bau busuk air comberan yang menusuk hidung menyambutku menyisir tempat itu. Yang lebih mengagetkan lagi adalah, sanitasi limbah rumah tangga tidak berjalan semestinya dan dibiarkan begitu saja, seperti menjadi hal yang biasa bagi penghuni-penghuni rumah kecil di gang venus ini. Para ibu-ibu dengan santainya masih mencuci baju dan membersihkan perangkat makan bersebelahan dengan comberan yang tersumbat dan mengeluarkan aroma tak sedap itu. Lebar lorong gang yang hanya 2 meter itu dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh warga setempat untuk beraktifitas sehari-hari, tanpa ada rasa ragu dan jijik sedikitpun.

Lebar lorong gang yang hanya 2 meter itu dimanfaatkan semaksimal

mungkin oleh warga setempat untuk beraktifitas sehari-hari, tanpa ada rasa ragu dan jijik sedikitpun.”

Dengan sedikit keheran-heranan dan rasa penasaran yang tinggi, aku pun semakin jauh memasuki gang yang sempit namun berjubel manusia ini. Semakin aku jauh kedalam, sinar matahari pun semakin terlihat meremang menyinari gang venus, “sungguh kehidupan yang tak layak…miris” ucapku dalam hati. Senyum sapaan warga setempat yang mengiringi langkahku di sepanjang lorong, menunjukkan bahwa mereka adalah aktor-aktor bermental baja, yang siap menghadapi cerita dan segala polemiknya di bumi batavia.

tunas tambora yang menaruh asa pada bumi jakarta

tunas tambora yang menaruh asa pada bumi jakarta

Semakin kedalam lorong terlihat rumah-rumah kecil yang bertingkat namun seperti dipaksakan memenuhi setiap jengkal sisi lorong-lorong gang. layaknya manusia hidup di bawah tanah, penuh sesak dan seketika itu pula sinar matahari melunak menyinari setiap sudut kehidupan gang venus. Dunia memang telah berganti tahun, tetapi jakarta masih saja bangga dengan muka lamanya. Sangat disayangkan jika warga ibukota ditahun 2013 ini masih dibalut dengan kondisi kehidupan yang jauh dari kata layak.

IMG_3360

denyut kehidupan di sudut tambora

Ketika sedang asyik berkutat dengan kamera yang aku genggam, seseorang dengan tangan renta yang keriput menepuk pundakku sambil berkata dengan suara paraunya “dari mana nak?”, lalu aku pun tersenyum kearahnya dan menyalaminya “saya dari batam nek. Nenek tinggal dimana?” tanyaku padanya. “oh batam ya, saya dulu pernah kesana waktu anak saya kerja disana. Ini rumah saya” sambil menunjuk istana kecil tempat ia bernaung di lorong tersebut. Sepertinya raut wajah penasaran masih terbesit di wajahnya tentang siapa aku, dan betul saja tak berapa lama aku disuruh duduk dengan pertanyaan polos dari seorang wanita lanjut usia yang bernama ngatiyem ini.

“kamu wartawan tipi yah?” tanyanya padaku, lalu dengan senyum akupun menjawab bahwa aku bukan wartawan tv. Dan menjelaskan semua perihal mengapa aku bisa sampai di gang venus ini. Setelah mendengar semua penjelasan dari diriku, nek ngatiyem mengangguk seolah mengerti dengan apa yang aku sampaikan. Nenek ngatiyem yang sudah berusia 78 tahun ini pun mengaku, bahwa sejak ia lahir hingga sekarang, memang dijakarta. Dia dulu tinggal di daerah pancoran pada masa tahun 1960’ an, tetapi manusia-manusia rakus yang haus akan kekayaan membuat keluarga-keluarga kecil yang mendiami tempat tersebut tergusur pindah mencari lahan yang masih bisa di buat tempat bernaung. Hingga akhirnya sebagian banyak yang memilih pindah ke tambora, karena pada saat itu wilayah di tambora masih kosong dan berbentuk rawa.

wajah renta nenek ngatiyem yang berharap sedikit belas kasihan dari cerita jakarta

wajah renta nenek ngatiyem yang berharap sedikit belas kasihan dari cerita jakarta

Beliau juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan air bersih di daerah tambora “kalo disini nak, ga banyak yang pake sumur bor, karena airnya item dan payau. Jadi tiap tiga hari sekali kami beli air dari tukang air keliling, klo engga kami ga bisa minum dan mandi” ucapnya. Sulitnya akses air bersih menambah perih setiap sendi kehidupan yang ada di tambora, rakyat kecil disini masih saja kuat menjalani rutinitas dengan akses seadanya. Belum ditambah, lahan yang semakin susah di dapat di kota jakarta, “jakarta mah sekarang makin sempit nak, tapi kita mah kudu bersyukur dan mawas diri… halal haram disini sama aja mah, jadi mesti hati-hati” pesannya kepadaku dengan logat khas betawinya. Pesan yang cukup singkat dan mewakili semua bentuk lika-liku kehidupan jakarta.

pedagang air keliling menyusuri gang sempit setiap harinya

pedagang air keliling menyusuri gang sempit setiap harinya

“Sulitnya akses air bersih menambah perih setiap sendi kehidupan yang ada di tambora, rakyat kecil disini masih saja kuat menjalani rutinitas dengan akses seadanya”

Beliau juga menambahkan, jika musim hujan tiba, para penghuni gang venus harus bersiap-siap untuk memindahkan perkakas nya ke lantai dua. Dan tetap akan tinggal di lantai dua hingga banjir surut. Tidak jarang, mereka terkadang harus berperang dengan tikus comberan yang ikut mengungsi secara illegal di rumah mereka, karena banjir yang tak kunjung surut. Rumah yang sudah ditempati 2 generasi keluarga ini, tampak sangat sederhana dengan luas bidang tanah sekitar 3×4 meter. Ternyata terjawab sudah pertanyaan yang selalu berputar di otakku dalam perjalanan ku menyisiri gang venus, “mengapa rumah di gang ini semuanya bertingkat hingga tiga lantai?! Sehingga atapnya pun menutupi lorong-lorong sempit di gang venus”.

rumah-rumah kecil yang bertingkat itu, selain menutup sinar matahari, juga memberi batas pada ruang bermain anak-anak tambora

rumah-rumah kecil yang bertingkat itu, selain menutup sinar matahari, juga memberi batas pada ruang bermain anak-anak tambora

“jika musim hujan tiba, para penghuni gang venus harus bersiap-siap untuk memindahkan perkakas nya ke lantai dua”

Puas berbincang dengan nek ngatiyem, akhirnya aku berpamitan untuk melanjutkan perjalanan meneruskan lorong yang akupun tidak tahu dimana ujungnya. Jarak gang venus ini lumayan panjang, di sepanjang lorong utama akan dibarengi dengan sublorong menuju rumah-rumah lainya, dan mushalla yang ada juga seadanya ini terletak di antara rumah-rumah warga. Tidak terasa hampir satu kilometer aku menyusuri gang venus, lelah ku terbayar sudah menyaksikan jakarta yang sebenarnya. Jakarta yang memang menampilkan sisi humanis secara gamblang dan jujur akibat perlakuan kaum aristokrat yang dengan pongahnya berlomba mengisi bumi batavia dengan gedung megah.

IMG_3274

tanpa beban, para anak-anak tambora tetap bermain meskipun ruang untuk mereka sangat terbatas

Disaat menuju perjalanan pulang tampak anak-anak tambora yang masih dengan riangnya menikmati permainan dengan ruang seadanya. Mereka seperti menikmati waktu dengan sekat-sekat papan yang membatasi gerak mereka dalam bermain, sepertinya mereka sadar bahwa di masa depan merekalah yang akan mengisi setiap rumah-rumah kecil yang terkesan “seadanya” ini. Tidak ada lagi ruang yang membuat mereka bisa bergerak bebas seperti layaknya anak lain kecuali gelak tawa yang iklas mereka lontarkan. Tidak ada lagi tempat bernaung yang nyaman layaknya apartement yang menjulang bebas dengan udara segarnya, selain papan beratapkan genteng berkarat dengan aroma comberan yang menyengat. Tidak ada lagi pengharapan lebih yang disajikan bumi batavia bagi tunas-tunas tambora ini. Tetapi masih ada yang bisa mereka berikan dan perjuangkan di masa mendatang, yaitu sebuah asa dan perubahan jakarta bagi mereka yang akan menoreh cerita baru di bumi batavia.

****

all photo by : vicky batamh

all text by     : vicky batamh

2 thoughts on “MENYONGSONG TAHUN BARU DENGAN BERBAGI NAFAS DAN RUANG DI BUMI BATAVIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s