seorang anak keturunan tionghoa sedang memperhatikan orang tuanya membakar hio

Rona imlek dari Beijing hingga ke Batam

Sudah genap setahun Warga tionghoa di batam melewati tahun naga dengan berbagai polemik, binar lampion yang sejak dua hari sebelumnya terpajang semakin ramai menghiasi setiap sisi jalan dan pertokoan di kota industri ini. Tak terasa pedagang mercun mulai menjamur mengisi emperan pertokoan dan swalayan di jantung kota “mercun mercuun, diskon bagi pembeli di atas sratus ribu” pekik  salah seorang pedagang musiman tersebut. Bagaikan daun tak berharga, para muda mudi tionghoa inipun berlomba menggelontorkan pundi pundi rupiah menghabiskan sisa mercun yang ada demi menyaksikan aksi gegap gempita di kelamnya angkasa batam pada tahun baru cina nanti. Di sisi lain, para pengurus vihara-vihara pun seakan tak pernah letih mempersiapkan segala sesuatu yang akan digunakan pada ritual nanti malam.

Ditengah kota, berdiri tegak vihara Pek kong bao, vihara tertua di daerah pusat kota yang didirikan pada tahun 80’an tampak semarak dengan ornament imlek di kompleknya. Disinilah sebagian masyarakat etnis tionghoa di kota batam memusatkan ritual cap go meh dan imlek. Sebuah acara keagamaan yang memang selalu menjadi daya tarik di seluruh penjuru dunia.

Matahari kini sudah condong ke ufuk barat, kesibukkan warga tionghoa yang sejak tadi siang sedikit lengang mulai menunjukkan hiruk pikuknya. Jalan jalan utama pun mulai padat merayap penuh dengan kendaraan yang entah darimana datangnya. Seketika itu juga, jalanan terasa seperti bukan di Indonesia. Betapa tidak, semua warga tionghoa berbondong bondong menunjukkan batang hidungnya di sore itu menguasai setiap sudut kota dan jalan raya.

Kota batam memang terkenal sejak dulu sebagai jalur perdagangan yang sangat strategis, karena terletak di jalur selat malaka,dan berbatasan langsung dengan negara singapura. Hal inilah yang menarik minat para etnis tionghoa dari seluruh penjuru nusantara yang notabene memang memiliki bakat luar biasa dalam berdagang. Semenjak berlakunya FTZ (Free trade zone) atau kawasan perdagangan bebas, etnis tionghoa di batam semakin meningkat dalam membantu arus perekonomian di kota ini. Tak heran, hampir seluruh toko elektronik dan swalayan pemiliknya adalah kaum tionghoa di kota ini, luar biasa.

Lama menunggu kendaraan yang tidak juga beranjak dari kemacetan, akhirnya akupun mulai mengarahkan kendaraan menuju vihara yang tampak tak pernah sepi dari pengunjung dengan segala kesibukannya, entah pengunjung yang sekedar melihat-lihat atau mampir untuk membakar hio dan memulai ritual sembahyang. Ritual sembahyang ini sudah dimulai sejak magrib atau ketika matahari memang benar benar sudah menghilang dari ufuk barat, banyak atribut ular yg di pajang pada etalase viharra karena memang di tahun 2013 ini adalah malam menyambut tahun shio ular. Sembari sibuk mencari tempat parkir kendaraan yang memang tumpah ruah hingga ke jalan utama, akupun juga mulai mencari cari lokasi yang pas untuk menikmati setiap momen pada viharra ini.

tampak wanita muda dari etnis tionghoa membakar hio untuk memulai ritual keagamaan

tampak wanita muda dari etnis tionghoa membakar hio untuk memulai ritual keagamaan

Ditemani dengan peralatan fotografi yang sederhana, aku berjalan hilir mudik mengitari setiap titik lokasi di sekitar vihara. Memang melelahkan, tetapi kemeriahan vihara seakan menularkan animonya kepadaku, sehingga memberi hiburan bagi kaki yang terus di pacu untuk berjalan. Kepulan asap hio para pengunjung mulai menyebar memenuhi ruangan utama, mataku pun mulai terasa perih dan tak bisa terbuka dengan baik. Ruangan vihara semakin sesak oleh peziarah yang tak henti hentinya masuk kedalam ruangan, entah itu puluhan atau ratusan,yang jelas akupun juga semakin sulit bernafas di dalamnya. Akhirnya hal ini memaksa diriku untuk keluar sejenak mengambil udara yang lebih jernih di luar ruangan utama.

Nilai-nilai kearifan tradisional etnik tionghoa yang menghubungkan ikatan batin antara manusia dan leluhur semakin mengental saat malam semakin larut”

Nilai-nilai kearifan tradisional etnik tionghoa yang menghubungkan ikatan batin antara manusia dan leluhur semakin mengental saat malam semakin larut. Tidak disangka semangat para peziarah tidak luntur meski ruangan utama semakin sesak dan kepulan asap hio semakin berkabut. Mereka seakan larut dengan ritual keagamaan dan panjatan doa yang bergulir dari mulut mereka.

Ada kepercayaan di kalangan etnis tionghoa, bahwa pada malam tahun baru cina dewa akan naik ke surga untuk melaporkan baik dan buruknya perbuatan keluarga pemilik altar atau yang sembahyang, dan mereka bermohon agar yang dilaporkan hal hal yang baik saja. Maka biasanya dalam sembahyang tersebut banyak disajikan makanan berupa buah-buahan dan manisan yang istimewa dari hari hari biasanya.

seorang pria paruh baya dengan serius mengikuti ritual keagamaan tersebut

seorang pria paruh baya dengan serius mengikuti ritual keagamaan tersebut

terdengar jelas suara di sebelah saya menyebutkan perkataan “gong xi fat cai, hong bo na lai”

Disekitar vihara itupun juga dijumpai beberapa turis yang turut menikmati kemeriahan malam tahun baru cina di kota ini. Tanpa ragu, merekapun ikut mengabadikan setiap momen yang ada di dalam vihara.Sambil mendekat akupun berseloroh “Gong xi fat cai”dihadapan dua orang bule tersebut, merekapun tersenyum dan membalas ucapan ku dengan kata-kata yang sama. Sedang asik berseloroh, terdengar jelas suara di sebelahku menyebutkan perkataan “gong xi fat cai, hong bo na lai” aku pun hanya bisa tersenyum ke arah pria separuh baya yang ikut tersenyum kearah diriku sambil menadahkan tangan. Aku pun heran,  “arti kata tadi apa pak?” tanyaku dengan nada bingung, pria paruh baya tadi sambil terkekeh berkata “selamat dan sejahtera buat kamu, ang pao nya mana?” aku pun tertawa kecil mendengarnya, “ah, bapak ini sudah tua masih ngarep ang pao dari anak muda” candaku pada bapak itu. Dia pun membalas dengan tertawa terkekeh kekeh.

IMG_3683

Gemerlap kembang api memecahkan lamunan sepi di tengah malam kota batam

GONG XI FAT CAI

Setelah puas menikmati momen yang cukup membuat mata berair karena kepulan asap hio tersebut, kini saatnya menunggu detik-detik pergantian tahun yang sangat memekakkan telinga. Yah, sudah pasti malam tahun baru imlek sangat identik dengan petasan dan mercun/ kembang api yang sangat banyak. Dan yap, hitungan mundur yang serentak di dengungkan pada malam pergantian tahun itu juga berbahasa mandarin. Tampak MC acara di komplek vihara mulai menghitung mundur menyambut tahun baru cina 2564 diikuti oleh seluruh pengunjung. Shi, jiu, ba, qi, liu, wu, si, san, er, yiiiii, ling dan pecahlah kelam kota batam oleh kemegahan dan ledakan kembang api yang berhamburan keudara. Dalam sekejap kota batam larut dalam hysteria warna warni kembang api yang benar benar indah. Tampaknya tidak ada satupun warga tionghoa yang akan mau melewati momen meriah ini, karena inilah yang ditunggu tunggu dari seluruh prosesi yang ada. Disamping gegap gempitanya angkasa kota batam, disitu pulalah terselip harapan para etnis tionghoa agar di tahun ular ini semua rezeki yang terhalangi dapat dilancarkan, segala keselamatan dapat dilimpahkan bagi seluruh penghuni kota industry ini, GONG XI FAT CAI.

***

all photo by : Vicky Batamh

text by : vicky Batamh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s