Kereta zaman belanda yang menjadi ikon pariwisata kota sawahlunto

Masa lalu yang bertuah di kota Batu bara

“kakekku memang pendatang, tapi aku dan pemuda lainnya asli pribumi kota ini. bedanya kami menguasai budaya tanah jawa yang akan tetap menghiasi kota ini sampai kiamat”

sepenggal cerita masa lalu membawa saya ke kota yang kaya akan hasil bumi ini, Sawahlunto. Dengan menggenggam begitu banyak rasa penasaran yang saya dengar dari masyarakat banyak,  sehingga saya pun tergerak untuk membuktikan sendiri goresan cerita yang tertinggal di kota ini. Ada yang mengatakan kota ini adalah kota penghasil Batu bara terbaik di dunia pada akhir abad 19, dan itulah yang membuat mata para penjajah tertuju pada kota ini untuk mengambil untung sebanyak-banyaknya. Ada pula cerita yang memang menjadi bagian kelam, yah untuk mengeruk kekayaan bumi Sawahlunto, rupanya para penjajah tidak ingin ikut berpeluh keringat dalam menambang batu bara. Alhasil, tidak hanya menguras hasil bumi saja, tanpa rasa sungkan mereka menjadikan kaum pribumi yang merupakan tuan rumah negeri tersebut sebagai budak untuk melayani hasrat menjajah mereka. Miris memang, menjadi budak di tanah kelahiran sendiri seakan melengkapi derita berkepanjangan kota tambang ini.

larut dalam limpahan hasil jajahan, membuat para penjajah semakin lapar dalam berburu emas hitam tersebut. tak tanggung-tanggung, ribuan pekerja yang berasal dari tanah jawa sekitarnya terdampar di kota yang masih penuh dengan hutan membelukar saat itu. Tahanan politik, para pelaku kriminal, tahanan perang, Bahkan rakyat jelata yang mempertahankan tanah leluhur di bumi jawa sana ikut diangkut ke kota ini.

“Waah… indah sekali,  Tapi seperti tak berpenghuni, lirih Van Kool Menteri Koloni Belanda kepada salah seorang perwira Belanda yang menemani perjalanannya ke Sawahlunto” meminjam dari ilustrasi para penjajah ketika datang pertama kali ke negeri terpencil ini. karena saking terpencilnya tempat ini, kampung kampung para penduduk seakan rebah diselimuti Pohon-pohon besar. Untuk mempermudah akses mereka, jutaan Gulden pun digelontorkan pemerintah belanda untuk memfasilitasi sarana transportasi dari dan keluar kota. Bukan transportasi untuk para pekerja, melainkan mengangkut “Emas Hitam” ini keluar sawahlunto yang nantinya akan disulap menjadi jutaan gulden oleh kolonial.

tidak heran mengapa disepanjang perjalanan menuju kota ini, terbentang jelas rel kereta api hasil keringat darah para pekerja paksa. Pekerja paksa ini biasa dikenal oleh orang setempat dengan sebutan “Urang Rantai” atau Kettingganger dalam bahasa belanda. sebutan ini sepertinya sudah mahfum bagi masyarakat Minangkabau, sebutan yang menyisakan luka bagi generasi penerus kota ini. “Coba pikirkan, siapa yang tidak terima kakeknya di rantai dileher, kaki, dan tangan layaknya binatang. Berapa banyak orang jawa sini yang tak tau lagi dengan kampung halamannya?!” nada geram terucap oleh seorang sahabat keturunan jawa tulen saat mencoba mengenang cerita klasik turun temurun dalam sebuah diskusi. Saya hampir saja larut dalam diskusi “Lapau” yang menguras pikiran itu. Yah, cerita lama itu memberikan suasana baru di kota yang telah berevolusi menjadi kota wisata saat ini. Peleburan budaya dari berbagai latar belakang keturunan dapat kita lihat di kota ini. Para leluhur “Urang Rantai” rupanya tak melupakan budaya asli mereka, mereka bukan tipe manusia “kacang yang lupa pada kulitnya”. Budaya tanah jawa tetap mereka warisi dengan baik untuk generasi penerus. Petuah “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” pun tetap mereka hormati.

masyarakat setempat masih mempertahankan nilai-nilai tradisional, termasuk dalam hal menyetrika baju.

masyarakat setempat masih mempertahankan nilai-nilai tradisional, termasuk dalam hal menyetrika baju.

“kakekku memang pendatang, tapi aku dan pemuda lainnya asli pribumi kota ini. bedanya kami menguasai budaya tanah jawa yang akan tetap menghiasi kota ini sampai kiamat” kalimat tajam dari bibir pemuda paruh baya yang dari tadi diam-diam mendengarkan diskusi “Lapau” kami. Tampak dari matanya menunjukkan kerinduan atas tanah leluhur, tapi entah siapa yang akan dia temui disana. Ulah para penjajah yang secara tidak langsung memutus tali silaturahim lebih dari seabad, menyisakan kesedihan bagi keluarga-keluarga “Urang Rantai”.

Kota Sawahlunto sendiri berasal dari dua kata, Sawah dan Lunto. yang berarti ”Sawah  yang diairi oleh Batang Lunto”. Dahulu memang tempat ini jauh dari sebutan kata Kota. Dataran sempit yang dipenuhi oleh hutan lebat dan beberapa petak sawah ini diapit oleh perbukitan yang saling menyambung mengitari daerah ini. Hanya kampung kecil yang mendiami tempat ini ditengahnya, sehingga terlihat seperti ditengah kuali. Itulah cikal bakal mengapa ada sebutan kota kuali untuk Sawahlunto.

Lubang tambang "Mbah Suro" menyimpan banyak peninggalan, termasuk kematian pendahulu.

Lubang tambang “Mbah Suro” menyimpan banyak peninggalan, termasuk kematian pendahulu.

kota yang berhawa sejuk ini benar-benar berada diatas jutaan ton batu bara yang belum seluruhnya di eksploitasi pemerintah belanda. Sisa-sisa bekas penambangan masa lalu pun masih tersaji rapi di tengah kota. Salah satunya adalah lubang mbah Suro, Lubang tambang ini membentang sepanjang 1,5 Kilometer dari Kelurahan tanah lapang hingga kantor DPRD. Tetapi tidak semua akses lubang tambang dapat kita telusuri karena alasan keamanan. Di dalam lubang tambang yang terkesan seadanya inilah para pendahulu banyak meregang nyawa karena kehabisan oksigen atau penyebab lainnya. Setidaknya bau pengap dan gelapnya gua tambang cukup membawa kita ke masa lalu kota ini. Untuk tiket masuk ke dalam lubang mbah Suro ini, wisatawan hanya merogoh kocek Rp 8000 saja, cukup murah untuk sekedar ingin tau dan merasakan gelapnya masa lalu.

tidak puas hanya melihat tambang tua ini, saya penasaran dengan ikon pariwisata yang turut mengisi masa keemasan jaman penjajahan. “Mak itam” sebuah lokomotif tua yang benar-benar hitam legam. Sebuah reruntuhan sisa keangkuhan penjajah yang sengaja tertinggal di Kota ini, kini mendatangkan berkah bagi masyarakat setempat. besinya yang legam tampaknya tak termakan waktu. Entah berapa kali masinis silih berganti menukangi kuda besi ini sesuai perputaran zaman. tapi itu tak mempengaruhi laju kereta ini menyusuri rel yang juga berusia kurang lebih sama tua dengannya. “untuk membangunkannya dari tidur saja butuh waktu 3-4 jam hingga benar benar siap berlari” ujar Bukhari sambil terkekeh. lelaki dengan kumis tebal inilah yang hampir tiap hari “mengasuh” mak itam yang semakin menua. “fungsi mak itam sekarang sangat penting bagi pariwisata kota sawahlunto, tanpa mak itam sawahlunto bagaikan sayur tanpa garam” tambahnya dengan bahasa Indonesia yang sedikit terbata. Mak Itam kini melayani rute wisata Sawahlunto-Muarokalaban dengan harga tiket Rp 5000 untuk dewasa pada hari biasa. dan jika ingin menaikinya di akhir pekan harga tiket bisa melejit hingga Rp 50.000/orang.

sang masinis sedang membersihkan sisa-sisa batu bara dari "Mak itam"

sang masinis sedang membersihkan sisa-sisa batu bara dari “Mak itam”

mengunjungi Sawahlunto pada masa sekarang, memang sulit bagi saya untuk membayangkan betapa berdukanya kota ini dimasa silam. Rumah-rumah penduduk yang mulai menjamur, pasar dan keramaian di tengah kota dan semua peninggalan penjajah disulap menjadi kebutuhan pariwisata. Hampir setiap tahun kota ini disambangi perhelatan seni nasional dan internasional, menjadikan kota Sawahlunto semakin terkenal bak manusia yang “meng-artis”. Disepanjang perjalanan pulangpun, tenun yang melegenda dari dataran silungkang menjadi buah tangan yang manis dari ujung negeri ini. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, begitu lah adanya yang saya rasakan. hentakan kayu dari para penenun terdengar sayup-sayup ketika saya menginjakkan kaki di daerah ini.

sang pengrajin tenun silungkang

sang pengrajin tenun silungkang

Tidak ada yang begitu segar dimata kecuali menyaksikan warna-warni tenunan khas silungkang, yang memang telah mendunia. Sejenak, kelusuhan masa lampau kota batu bara dapat memudar oleh kepiawaian para penenun yang semakin lincah dengan ribuan benang dan “Panta Tagak”nya, sebuah papan besar sebagai penopang tenunan. Perjalanan mengitari negeri tambang ini telah membuat saya berdecak kagum, Kini dua sejarah yang sangat kontras telah saya saksikan dengan kepala mata sendiri. Dihadapan saya pula, sang penenun berdendang “Dari tapian ka Sawahlunto, Sawahlunto bukik barantai, Parasaian badan, parasaian badan Sarupo iko, sarupo iko…. ooi kanduang ooi…”

***

Text & Photo : Vicky Batamh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s